Thursday, May 17, 2012

Buah Tidak Selalu Sehat

Makan buah itu sehat. Secara umum, hal itu memang benar. Buah kaya dengan vitamin, mineral, serat dan tidak mengandung lemak berbahaya. Buah tidak mengandung zat aditif buatan dan sangat baik untuk anak-anak karena mengandung nutrisi penting bagi pertumbuhan mereka. Namun, tidak semua buah sehat.

1. Pestisida

Pestisida pada kulit buah meninggalkan residu yang dapat merembes hingga ke bagian dalam buah. Ada empat jenis pestisida yang populer yaitu captan, iprodione, malathion, dan karbaril. Captan dan iprodione diketahui dapat menyebabkan kanker (karsinogenik).
Banyak buah-buahan yang disemprot pestisida sehingga sangat penting untuk mencuci atau mengupas buah sebelum memakannya. Jika Anda sering makan buah-buahan yang mengandung residu pestisida, Anda berisiko mendapatkan masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Buah terbaik adalah yang dibudidayakan secara organik. Anda dan anak-anak akan terhindar dari racun berbahaya dalam makanan Anda.

2. Patogen

Buah-buahan biasanya ditaruh di wadah yang paling terbuka di pasar dan supermarket. Beberapa orang hanya memegang-megang buah untuk memeriksa kondisinya lalu mengembalikannya. Orang-orang itu dapat memiliki banyak bakteri atau virus di tangan dan tubuh mereka. Banyak patogen yang juga ditularkan melalui udara yang dapat mencapai buah. Oleh karena itu, sekali lagi penting untuk mencuci buah sebelum memasukkan ke mulut.

3. Jamur

Buah memiliki karakteristik mudah berjamur (membusuk). Jika di luar kelihatannya hanya ada sedikit yang berjamur, maka seringkali hifa jamur sudah berada pada sebagian besar buah, yang mungkin tidak terlihat dengan mata telanjang. Buah akan terasa basi meskipun bagian yang berjamur sudah dipotong.
Jamur tidak baik bagi kesehatan karena dapat mengembangkan mikotoksin yang menimbulkan gangguan syaraf, pencernaan, jantung dan liver. Karena itu, Anda harus membuang buah yang berjamur meskipun tampaknya masih bisa dimakan.

4. Reaksi alergi

Orang dapat mengembangkan alergi terhadap segala hal, termasuk buah-buahan. Reaksi alergi dapat bervariasi dari sedikit gatal di mulut, ruam kulit, sampai muntah-muntah. Orang dengan sindrom iritasi usus besar dapat sangat sensitif terhadap buah-buahan tertentu.
Sekali lagi, buah pada dasarnya sangat sehat bagi manusia dan mengandung nutrisi yang benar-benar diperlukan agar kita tetap sehat. Artikel ini bukanlah untuk menakut-nakuti Anda, tetapi hanya untuk mengingatkan. Jangan sampai kita menikmati buah yang tidak sehat namun tidak menyadari risikonya.

Cara Benar dan Sehat Makan Buah

shutterstock
Ragam buah untuk kebugaran tubuh.
              Supaya memeroleh manfaat yang maksimal bagi kesehatan, mengonsumsi buah-buahan ada cara dan triknya.  Berikut adalah cara benar dan sehat memakan buah :

Secara umum

- Simpanlah buah-buahan utuh di atas meja, konter, atau di dalam lemari es.
- Dinginkan buah yang dipotong dengan cara menyimpannya dalam lemari es untuk konsumsi kemudian.
- Beli buah-buahan segar pada saat musimnya, di mereka biasanya lebih murah selain rasanya juga rasanya lebih nikmat.

Untuk kandungan nutrisi terbaik
- Buatlah aneka pilihan sebanyak-banyak untuk mengonsumsi buah. Bisa dimakan secara utuh, diblender atau dipotong. Makan buah utuh lebih baik ketimbang meminum sari buah, karena Anda dapat memenuhi kebutuhan serat.
- Sering-seringlah memilih buah-buahan yang lebih banyak mengandung potasium, seperti pisang, melon, prune, aprikot, buah persik kering, dsb.

Konsumsi saat makan

- Saat sarapan, tambahkan buah pisang atau buah persik. Anda dapat mencampurnya dengan sereal atau gandum. Atau Anda dapat menambahkan bluberi pada pancake. Jangan lupa minum 100 persen sari buah jeruk.
- Ketika makan malam, tambahkan buah nanas yang dihancurkan pada salad coleslaw, atau juga menambahkan jeruk mandarin atau buah anggur pada hidangan salad Anda.
- Cobalah untuk mengombinasikan menu makanan daging dengan buah, seperti ayam dengan kuah dari buah aprikot atau mangga.
Untuk cemilan
- Buah dapat dipotong-potong untuk membuat cemilan yang sehat. Anda dapat memotongnya sendiri di rumah, atau membeli buah yang sudah dipotong dan dikemas seperti semangka, melon atau pepaya . Atau cobalah memakan buah anggur atau beri yang segar.
- Buah-buah yang dikeringkan seperti kurma, atau kismis juga dapat dijadikan makanan kecil yang sehat. Mereka mudah untuk dibawa dan disimpan dengan baik. Karena mereka  kering, nilai  ¼ cangkir setara dengan ½ cangkir buah-buahan lain.
Tip untuk konsumsi anak-anak
- Biasakan memberi contoh makan buah yang baik. Ajaklah anak-anak makan buah segar setiap hari-hari baik saat makan atau sebagai cemilan.
- Tawarkan pada anak-anak suatu pilihan dari buah-buahan untuk makan siang mereka.
- Seiring pertambahan usia, ajarkan anak-anak untuk membantu membelikan buah-buahan, membersihkan, menguliti, atau memotong buah-buahan.
- Saat belanja, izinkan dan membiarkan anak-anak untuk memilih suatu jenis buah yang baru untuk mencoba kemudiannya di rumah.
- Hiaslah pinggan-pinggan dengan irisan buah supaya mengundang selera.
- Tambahkan beberapa buah beri pada mangkuk gandum saat mereka sarapan. Atau, buatlah hiasan berbentuk wajah tersenyum dengan irisan pisang dan buah persik untuk matanya, kismis untuk  hidungnya, dan irisan jeruk  untuk  mulutnya.
- Tawarkanlah kismis atau buah kering lain sebagai pengganti permen.

Orang Dewasa Juga Butuh Imunisasi

shutterstock

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini, banyak orang berpikir bahwa vaksinasi atau imunisasi hanya perlu diberikan untuk anak-anak. Padahal, imunisasi juga penting untuk orang dewasa khususnya kelompok usia lanjut, karena dapat mencegah kematian secara signifikan.
Demikian disampaikan Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)- Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Samsuridjal Djauzi, dan dalam seminar 'Lindungi Bangsa, Cegah Meningitis', Senin, (23/4/2012) di Jakarta.
Dalam seminarnya, Samsuridjal mengatakan, imunisasi untuk orang dewasa sama pentingnya dengan imunisasi pada anak. Bahkan, imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah risiko kematian seratus kali lipat lebih tinggi ketimbang imunisasi pada anak.
"Imunisasi pada orang dewasa kurang populer ketimbang anak-anak. Karena dari sejarahnya sendiri di Indonesia, imunisasi dewasa baru mulai pada tahun 2003 dan karena itu gaungnya kepada masyarakat masih kurang," ucapnya.
Menurut Samsuridjal, tujuan imunisasi pada orang dewasa dan anak berbeda. Pada anak, pemberian imunisasi dimaksudkan untuk menyiapkan anak agar memiliki kekebalan tubuh yang kuat, sehingga tidak gampang sakit. Tetapi pada orang dewasa terutama pada orang berusia lebih lanjut, imunisasi dapat mencegah kematian yang cukup signifikan.
Beberapa penyakit orang dewasa yang dapat dicegah dengan imunisasi di antaranya, hepatitis B, hepatitis A, tetanus, MMR, tifoid, influenza, HPV (kanker leher rahim), pneumokok dan meningokok. Lebih lanjut Samsuridjal menyampaikan, di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, sudah ada program khusus untuk pemberian imunisasi kepada orang dewasa berusia lanjut, di antaranya dengan pemberian vaksinasi influenza (cakupan 60 persen) dan pneumokok (cakupan 70 persen).
"Mudah-mudahan negara kita membuat program imunisasi bukan hanya untuk anak saja, tetapi juga orang dewasa," imbuhnya.
Menurut Samsuridjal, ada beberapa hal yang mendasari kenapa imunisasi pada orang dewasa kurang diperhatikan. Lima hal di antaranya adalah kurangnya informasi mengenai efektivitas, belum ada pedoman, layanan vaksinasi masih terbatas, harga vaksin yang tidak terjangkau dan belum ada dukungan pembiayaan asuransi. Imunisasi pada orang dewasa sebenarnya sudah berjalan, tetapi pelayanannya belum merata dan masih dalam skala yang kecil. Perlu upaya dari berbagai pihak untuk mengupayakan agar cakupannya meningkat.
"Vaksin memang menguntungkan buat orang yang divaksin tapi kalau cakupannya kecil, tidak terlalu menguntungkan untuk masyarakat. Perlu cakupan yang lebih luas," tutupnya.

APBD untuk Kesehatan Masih Minim

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Bocah di Posyandu Mandiri, Kelurahan Simokerto, Surabaya, mendapat imunisasi difteri, Senin (10/10). Imunisasi ini untuk mencegah anak terjangkit difteri yang melanda Jawa Timur. Difteri merenggut 11 jiwa sepanjang tahun 2011.


          Pemerintah daerah (Pemda) dinilai masih pelit mengeluarkan anggaran untuk urusan kesehatan di daerahnya. Bahkan masih ada daerah yang belum mengalokasikan minimal 10 persen belanja daerahnya untuk kesehatan.
Coordinator of Research and Development Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fitra) Muhammad Maulana menjelaskan, proporsi belanja daerah untuk urusan kesehatan memang masih rendah. Padahal, pemerintah telah mensyaratkan untuk menganggarkan minimal 10 persen belanja daerah untuk kesehatan.
"Ada tujuh daerah yang belum pernah sekalipun mencapai target 10 persen dalam periode 2008-2011," kata Maulana selepas konferensi pers di kantor The Asia Foundation Jakarta, Rabu (16/5/2012).
Ketujuh daerah tersebut antara lain Makassar (7,5 persen), Probolinggo (8 persen), Kota Banda Aceh (8 persen), Luwu (8,1 persen), Bener Meriah Aceh (8,2 persen), Sekadau Kalimantan Barat (8,2 persen), Bengkayang Kalimantan Barat (8,9 persen), Barru Sulawesi Selatan (9,4 persen) dan ditambah lagi dengan Sambas Kalimantan Barat (9,4 persen) serta Bulukumba Sulawesi Selatan (9,8 persen).

Di sisi lain, belanja kesehatan per kapita yang tinggi  tidak menyebabkan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) juga tinggi. Misalnya, anggaran kesehatan masyarakat di Luwu Utara pada tahun 2009 sebesar Rp 210.000 per orang, namun angka IPKM-nya hanya 0,5. Sementara anggaran kesehatan masyarakat di Makassar pada tahun yang sama sebesar Rp 60.000 per orang, namun angka IPKM-nya sudah mencapai 0,65, tertinggi di antara 20 kota atau kabupaten yang ada.
"Memang besaran anggaran belanja untuk urusan kesehatan ini tidak sebanding dengan angka IPKM yang diperoleh," tambahnya.
Sementara itu, program kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak (KIBBLA) belum menjadi prioritas dalam urusan kesehatan, seperti yang dianggarkan dalam APBD.
"Tidak ada satupun daerah yang menganggarkan program KIBBLA sesuai standar pemerintah tahun 2011 sebesar Rp 74.000. Semua masih di bawahnya," katanya.
Dengan anggaran KIBBLA yang minim, maka angka kematian bayi juga masih di atas rata-rata nasional sebesar 80 persen. Rata-rata daerah tentang proporsi kelahiran ditolong dengan tenaga medis dan angka kematian bayi masih di bawah 80 persen.

Wednesday, May 16, 2012

Sunat Bayi dan Risiko Penyakit

TANYA :
Prof, menurut sebuah laporan dari koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, Senin (5/3/2012) lalu, ada suatu penelitian terbaru yang menyimpulkan bahwa bayi yang tidak disunat menghadapi risiko terkena infeksi saluran kemih, dan pembengkakan ginjal 10 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang disunat. Ketika dewasa juga, risiko terkena kanker prostat dan kanker penis lebih tinggi, dan risiko terkena HIV dan sifilis 3 sampai 8 kali lebih tinggi. Bagi wanita dari pasangan pria yang tidak disunat, resiko terkena kanker leher rahim empat kali lebih tinggi. Apakah hal hal diatas tersebut benar ? kalau benar berarti saya harus disunat ? Kemudian, apakah ada risikonya kalau sunat pada saat sudah dewasa seperti saya ini ?
(Robin T, 20,Palembang)

JAWAB :
Saya belum sempat membaca hasil penelitian itu. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua hasil penelitian dianggap benar dan diterima oleh komunitas terkait. Artinya, hasil penelitian perlu dikonfirmasi oleh penelitian lain sebelum menjadi kesimpulan secara internasional.
Tetapi saya ingin memberi gambaran, kalau benar laporan penelitian seperti itu, tentu mengundang pertanyaan. Sebagai contoh, kasus kanker prostat juga banyak didapat di negara di mana sunat merupakan suatu keharusan. Demikian juga kasus kanker leher rahim ternyata banyak dijumpai di Indonesia. 
Jadi, saya pikir hasil penelitian itu sangat perlu dikonfirmasi dengan penelitian lain. Masalahnya, mungkin tidak banyak negara yang menerapkan sunat pada saat bayi (bukan anak-anak) seperti yang dilakukan oleh kalangan Yahudi. 
Tetapi kalau Anda ingin disunat ya silakan saja. Risikonya tidak ada.

Ternyata, Sendal Jepit Berbahaya!

Ghiboo.com - Memakai sendal jepit memang dipilih sebagian orang karena kepraktisannya. Sayangnya, para ahli menyimpulkan bahwa memakai sendal jepit dalam jangka panjang amat berisiko bagi kesehatan.
Sendal jepit dianggap berbahaya karena jari kaki tidak bisa terangkat dengan rileks, dan ini mengarah pada perubahan tekanan lebih besar pada pergelangan kaki dan tekanan vertikal yang lebih kecil di tumit.
Kerusakan pada kaki yang mengenakan sendal jepit lebih serius daripada sepatu hak tinggi. Para ahli memperingatkan bahwa sendal jepit dapat mengubah cara berjalan seseorang, sehingga ketika mengambil langkah, mereka memberikan tekanan pada bagian luar kakinya daripada tumitnya. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan jangka panjang.
Sendal jepit kurang memberikan dukungan pada telapak kaki, sehingga dapat menyebabkan rasa sakit dan lengkungan tendon. Selain itu, ada juga risiko cidera serius dari tersandung.
Tak hanya itu, sebuah hasil tes juga menunjukkan bahwa sendal jepit merupakan sarang kuman. Sendal yang dipakai selama empat hari berturut-turut akan menjadi menjadi rumah bagi bakteri mematikan, seperti staphylococcus aureus, yang bersembunyi di karet sendal.
Jika Anda memiliki luka di sekitar kaki, maka bakteri bisa memasuki aliran darah. Bila tak segera ditangani, maka bisa menyebabkan kematian.
"Bakteri staphylococcus aureus dapat membuat sakit Anda cukup berat jika bakteri tersebut masuk kedalam luka dan ke dalam aliran darah Anda, dimana bakteri bisa menyerang organ internal Anda yang manapun. Jika Anda tidak mengobatinya dengan antibiotik, nyawa Anda akan terancam," papar ata Dennis Kinney, Ph.D., manajer laboratorium mikrobiologi di EMSL Analytical.